07 Juni 2009

PROFIL RS-AL ISLAM BANDUNG

Sejarah Singkat Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Berawal ketika keinginan Ibu-Ibu Yayasan untuk memiliki rumah sakit itu karena penduduk di sekelilingnya adalah umat Islam, sementara rumah bersalin itu berdekatan dengan rumah sakit non Islam. Maka Ibu-ibu BSKWI secara efektif mengadakan pengajian-pengajian yang kegiatannya dilaksanakan di rumah bersalin, dengan maksud menghimbau kepada penduduk di daerah itu untuk memanfaatkan fasilitas Rumah Bersalin dengan semua pelayanannya.
Ibu Hj. Siti Rogayah Buchori, Ibu Hj. Saribanon sebagai anggota DPRD Jawa Barat. Sekitar tahun 1970 itu juga dilakukan suatu upaya untuk meralisasikan perluasan atau peningkatan status RS Bersalin menjadi RS Umum yang representatif, hal tersebut ditindaklanjuti dengan mengadakan rapat di Rumah Ustd. Komarudin (Alm.). Dari rapat tersebut disepakati pembentukan Panitia Pembangunan RS Islam yang Diketuai oleh Bapak KH EZ Muttaqien (Alm) dan pada kesempatan itu dimohon kesediaan Prof.dr. Rudi Syarief Sumadilaga dan dr. Oemy R. Syarief untuk membantu mengembangkan RS yang telah dimiliki ibu-ibu tersebut.
Ibu-ibu BKSWI terus berusaha mewujudkan cita-citanya untuk mendirikan Rumah Sakit Al Islam yang islami, bersama-sama Yayasan Rumah Sakit Islam BKSWI Jabar yang didirikan Tahun 1971.
Lalu dicarilah tanahnya dan mendapatkannya di Jl. Parakan seluas 3000 meter persegi, dan pernah dirintis sampai peletakan batu pertama oleh Walikota Kodya Bandung. Kemudian Ibu-ibu mencari lokasi lain, yang akhirnya mendapatkan di Jl. Soekarno-Hatta No. 644.
Untuk sementara kepemimpinan ditangani oleh tim ketua, yang terdiri dari :
1. dr. Hj. Oemy R Syarief, sebagai Ketua Bidang Keuangan
2. dr. H. Tb. Zuchradi, sebagai Ketua Bidang Medik
3. KH Yunus Nataatmadja, sebagai Ketua Bidang Dana
4. Ir. Sandi Siregar, sebagai Ketua Bidang Perencanaan Bangunan
Tim Ketua mengajukan konsep, untuk membina suatu RS, Depkes RI mensyaratkan adanya Dewan Penyantun yang kalau di luar negeri seperti dijelaskan oleh dr. Tb. Zuchradi, Sp.An disebut Governing Board atau semacam Dewan Pembina dengan harapan Dewan Pembina ini nantinya sekaligus mengambil alih tugas Panitia Pembangunan dan dimohon kesediaan Bpk. Achmad menjadi Ketua Dewan Pembina.
Respon dan animo masyarakat terhadap RS Al Islam cukup tinggi sehingga kebutuhan akan sarana pelayanan terus meningkat terutama kebutuhan akan pelayanan rawat inap, kemudian dibangun gedung rawat inap berlantai tiga dengan nama Gedung Firdaus dengan dana dari sumbangan dari masyarakat muslim, pemda dan simpatisan. Pada awal tahun 1993 gedung tersebut selesai dan dioperasional dengan jumlah tempat tidur menjadi 90 tempat tidur.
Berdasarkan master plan, program jangka panjang dan perkembangan RS Al Islam yang cukup pesat, dibutuhkan gedung perawatan dan penunjang lainnya yang representatif, maka pada tahun 1994 dibuat Gedung Perawatan Berlantai 6 dengan nama Ibnu Sina lengkap dengan peralatan medik dan non medik dengan biaya pinjaman lunak dari IDB (Islamic Development Bank). Sebagai persyaratan pinjaman RS Al Islam harus menyediakan equity, maka RSAI membangun gedung perawatan VIP dua lantai dengan nama Pavilliun Raudloh dan kapasitas tempat tidur 30. Dana untuk pembangunan gedung perawatan VIP diperoleh dari sumbangan perorangan, masyarakat muslim dan simpatisan.
Pada tanggal 1 Nopember 1997 Gedung Ibnu Sina diresmikan oleh Manteri Kesehatan RI (dr. Suyudi), sehingga kapasitas tempat tidur yang dimiliki sebanyak 275 tempat tidur dan dioperasionalkan secara bertahap.
Guna memenuhi kebutuhan pasien akan pelayanan rawat jalan yang representatif, maka diadakan pengembangan/pembangunan gedung rawat jalan 3 lantai tahap pertama dengan dana dari sumbangan perorangan, Gubernur Jawa Barat, dan SHU RS Al Islam Bandung. Insya Allah pada bulan April 2003 Gedung tersebut selesai dan diresmikan oleh Bpk. Gubernur Propinsi Jawa Barat (H.R. Nuriana).

Visi dan Misi Rumah Sakit Al-islam Bandung
a. Visi
Unggul dan islami dalam pelayanan dan pengelolaan
b. Misi
1) Menerapkan seluruh nilai-nilai islam ke dalam seluruh pelayanan dan manajemennya.
2) Menjadi bagian integral dan jaringan pelayanan kesehatan nasional.
3) Mengembangkan sumber daya manusia yang dimilikinya.
4) Memberikan kepuasan kepada konsumen yang optimal secara terus menerus.
5) Meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Sumber : RS-AL ISLAM BANDUNG 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar