01 Juli 2009

LATGAB TNI 2008 : "SEBUAH TINJAUAN ASPEK DARAT BAGI KEPENTINGAN PERTAHANAN NEGARA"

Oleh : Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, S.IP

Pendahuluan
Bagi setiap negara, terutama negara-negara dengan geografi seperti Indonesia, Latihan Gabungan bagi Angkatan Bersenjata atau kekuatan militernya, amatlah penting. Tidak satupun matra atau Angkatan, yang boleh mengklaim sebagai pihak yang paling menentukan dalam suatu pertempuran atau upaya mempertahankan kedaulatan bangsa, baik dalam perang konvensional maupun modern, seperti sekarang ini. Paduan segala daya dan kemampuan dari seluruh Angkatan Darat, Laut dan Udara, adalah sebuah keniscayaan. Sejauh mana tingkat paduan itu dapat diwujudkan, salah satunya amat ditentukan oleh tingkat latihan gabungan yang terencana, terkoordinasi dan terselenggara dengan sebaik-baiknya.

Latihan Gabungan TNI Tahun 2008, adalah yang keempat kalinya sejak tahun 1988, atau yang pertama di era Reformasi, sebagai bagian dari upaya meningkatkan strategi dan kemampuan penangkalan (deterrence), sistem pertahanan kita. Latihan Gabungan, pada hakekatnya adalah mega latihan, baik dari segi perencanaan, pemikiran, penggunaan waktu, pelibatan pasukan dan alutsista, serta penyerapan sumber daya, dan anggaran. Itu belum cukup. Bagi Latihan Gabungan TNI yang menganut Doktrin dan Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta), maka latihan gabungan juga melibatkan masyarakat sebagai komponen cadangan dan pendukung, yang dilaksanakan di daerah rawan sebagai medan latihan sesuai perkiraan kontijensi yang cerdas dan terpilih.

Esensi Latihan Gabungan

Pada hemat saya, esensi Latihan Gabungan, disamping yang telah dirumuskan dalam dokumen atau direktif latihan, pada hakekatnya adalah suatu kebutuhan untuk :

Pertama, menguji doktrin. Doktrin pertahanan pada hakikatnya adalah suatu ajaran tentang prinsip-prinsip fundamental pertahanan negara yang diyakini kebenarannya, digali dari nilai-nilai perjuangan bangsa dan pengalaman masa lalu untuk dijadikan pelajaran dalam mengembangkan konsep pertahanan sesuai dengan tuntutan tugas pertahanan dalam dinamika perubahan, serta dikemas dalam bingkai kepentingan nasional. Doktrin Pertahanan Negara tidak bersifat dogmatis, tetapi penerapannya disesuaikan dengan perkembangan kepentingan nasional.

Pada masa damai, Doktrin Pertahanan Negara digunakan sebagai penuntun dan pedoman bagi penyelenggara pertahanan negara dalam menyiapkan kekuatan dan pertahanan untuk mewujudkan kemampuan daya tangkal yang efektif (effective deterrence), yang mampu mencegah setiap hakikat ancaman serta kesiapsiagaan dalam meniadakan ancaman, baik yang berasal dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Pada keadaan perang, Doktrin Pertahanan Negara memberikan tuntutan dan pedoman dalam mendayagunakan segenap kekuatan nasional dalam upaya pertahanan guna menyelamatkan negara dan bangsa dari ancaman yang dihadapi.

Sesuai stratifikasinya, bersumber pada Doktrin Pertahanan Negara itulah, mengalir ke bawah Doktrin TNI, dan seterusnya Doktrin TNI AD, Doktrin TNI AL dan Doktrin TNI AU. Melalui latihan kita akan memperoleh keyakinan, bahwa doktrin kita adalah sahih atau benar, valid atau tidak cacat dan akurat atau sesuai dengan jiwa, semangat dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Melalui latihan pula, kita akan memperoleh kebenaran hakiki bahwa doktrin kita akan memandu sekaligus memberi arah dan koridor dalam setiap derap pengabdian TNI, sesuai matra masing-masing.

Kedua, meningkatkan profesionalisme dan kepercayaan diri TNI dalam menjaga kepentingan nasional. Kepentingan nasional Indonesia, adalah tetap tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta terjaminnya kelancaran dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan, guna mewujudkan tujuan pembangunan dan tujuan nasional. Kepentingan nasional diwujudkan dengan memperhatikan tiga kaidah pokok : (1) tata kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 ; (2) upaya pencapaian tujuan nasional dilaksanakan melalui pembangunan nasional yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan berketahanan nasional berdasarkan Wawasan Nusantara ; (3) sarana yang digunakan adalah seluruh potensi dan kekuatan nasional yang didayagunakan secara menyeluruh dan terpadu.

Ketiga, mendeteksi hakekat ancaman terhadap bangsa dan negara. Ancaman pada hakikatnya adalah setiap usaha dan kegiatan, baik yang berasal dari luar negeri atau bersifat lintas negara maupun yang timbul di dalam negeri, yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Dalam Doktrin Per-tahanan Negara, terminologi ancaman mencakup setiap ancaman termasuk gangguan yang dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa atau yang bersifat penghambat atau peng-halang terhadap kepentingan nasional.

Bentuk-bentuk ancaman yang mungkin kita hadapi, adalah : Pertama, Ancaman Militer, berupa : Agresi Militer ; Pelanggaran Wilayah ; Gerakan Separatisme (ingin memisahkan diri dari NKRI) ; Pemberontakan Bersenjata ; Pengamanan Objek Vital Nasional yang Bersifat Strategis ; Kegiatan Spionase ; Ancaman Terorisme dan radikalisme ; Gangguan Keamanan di Laut dan Gangguan Keamanan di Udara ; dan Konflik Komunal. Kedua, Ancaman Nirmiliter. Ancaman nirmiliter dapat berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, informasi, dan teknologi serta berdimensi keselamatan umum. Ancaman nirmiliter memiliki karakteristik yang berbeda dengan ancaman militer, tidak bersifat fisik, serta bentuknya tidak kelihatan seperti ancaman militer, namun dapat berkembang atau berakumulasi menjadi ancaman terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa. Ancaman nirmiliter dapat pula terjadi secara bersamaan dengan ancaman militer, sehingga memerlukan kecermatan baik dalam meng-identifikasi maupun dalam penanganannya.

Keempat, Latihan Gabungan meningkatkan kemampuan penangkalan (deterrence). Kemampuan Penangkalan, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan sistem pertahanan yang didukung oleh aspek hard power, yakni modernitas dan jumlah alutsista yang dimiliki oleh militer di suatu negara. Melainkan banyak faktor yang turut berbicara, seperti fakor ekonomi, politik dan sosial budaya dari bangsa yang bersangkutan, seperti, faktor kesejarahan, tingkat pengalaman, ketrampilan, serta moral dan moril prajuritnya.

Adalah wajar dan manusiawi, apabila kita kadang-kadang berkecil hati menyadari keadaan kita sekarang. Perekonomian nasional belum sepenuhnya sembuh dari hantaman badai krisis, dinamika politik kurang menentu sebagai akibat dari uforia reformasi, alutsista TNI jauh ketinggalan (dalam jumlah dan kualitas) serta dukungan anggaran pertahanan yang masih kurang dari batas minimal, bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Akan tetapi, dari aspek soft power, kita memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Bangsa Indonesia dan prajuritnya, memiliki tradisi sejarah perjuangan yang panjang dan membanggakan. Dari sejarah itulah, lahir nilai-nilai nasionalisme, patriotisme dan heroisme, yang luar biasa, yang mewujud dalam semangat pantang menyerah, tabah menghadapi kesulitan, sungguh-sungguh dalam melaksanakan latihan, dan lain-lain.

Latihan Gabungan 2008, Dalam Perspektif TNI AD

Salah satu muatan Latihan Gabungan ini adalah, pengembangan konsep rencana kampanye militer, untuk menjawab kemungkinan ancaman potensial. Konsep tersebut, didasarkan kepada Rencana Kontijensi yang paling mungkin terjadi sesuai dengan prakiraan kita, yakni, di wilayah perbatasan darat, laut dan udara nasional di sekitar Kalimantan, Sulawesi, perairan Selat Malaka, dan perairan Laut Natuna (Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) -I dan -II).
Latihan Gabungan TNI Th 2008 ini, adalah latihan gabungan TNI yang pertama setelah reformasi. Karenanya, latihan gabungan ini dapat dipandang sebagai bentuk pertanggungjawaban TNI kepada bangsa Indonesia, sesuai amanat reformasi internal TNI. Khusus berkenaan dengan TNI AD, dapat disampaikan perspektif, sebagai berikut :

a. Peran TNI AD.

TNI AD sebagai kekuatan penangkal, pencegah dan pemulihan dalam Latihan Gabungan TNI Th 2008 memerankan kekuatan dalam strategi penangkalan untuk menguji rencana kontijensi Komando Tugas Gabungan di wilayah Corong Barat (ALKI-I) dan Corong Tengah (ALKI-II), dengan mengerahkan kekuatan TNI AD + 10.388 personel. Satuan-satuan TNI AD yang dilibatkan terdiri dari satuan Kostrad, Kopassus, Kodam I/BB dan Kodam VI/Tpr pada macam dan jenis operasi gabungan dan matra meliputi ; Operasi Intelijen, Operasi Khusus, Operasi Linud, Operasi Darat Gabungan, dan Operasi Teritorial.

b. Pelibatan satuan TNI AD dalam Latgab TNI TH 2008.

1) Operasi Intelijen. Operasi intelijen adalah segala usaha, kegiatan dan tindakan yang terencana dan terarah baik secara terbuka maupun tertutup dengan tujuan untuk mengumpulkan bahan keterangan, menciptakan suatu keadaan yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran dan melakukan usaha kegiatan untuk melawan dan menggagalkan operasi intelijen musuh. Dilaksana-kan oleh satuan intelijen TNI AD dalam bentuk memberikan bantuan intelijen strategis dan taktis kepada satuan lain yang membutuhkan.

2) Operasi Khusus. Bentuk operasi matra darat yang diselenggarakan oleh pasukan khusus TNI AD dalam rangka melaksanakan operasi khusus yang bernilai strategis dan terpilih di daerah yang dikuasai musuh dengan cara khusus dan pelaksanaan operasinya dimulai sebelum, selama dan sesudah operasi pokok berlangsung.

3) Operasi Linud. Bentuk operasi gabungan yang dilancar-kan melalui udara bersama-sama Satuan Tugas Udara (TNI AU) dan Satuan Lintas Udara, dengan cara diterjunkan atau didarat-kan di daerah sasaran termasuk logistik dan peralatannya. Operasi Linud ditugaskan untuk melaksanakan tugas taktis atau strategis, memberikan efek pendadakan dan efek psikologis kepada lawan dibelakang pertahanan musuh. Satuan Linud Kostrad bertugas melaksanakan serbuan Linud untuk merebut dan mempertahankan tumpuan udara di wilayah sasaran dalam rangka operasi selanjutnya. Keberhasilan operasi Linud dapat mempengaruhi keberhasilan operasi secara keseluruhan.

4) Operasi Darat Gabungan. Suatu operasi gabungan yang diselenggarakan oleh satuan darat, satuan laut dan satuan udara, yang mempertahankan suatu wilayah daratan, meng-hentikan gerak maju musuh, menghancurkan dan menghalau musuh atau merebut wilayah yang diduduki oleh musuh. Operasi darat gabungan titik berat sasaran dilaksanakan di darat oleh satuan Kostrad sebagai kekuatan inti dan dibantu kekuatan satuan kewilayahan, dalam rangka operasi darat lanjutan.

5) Operasi Teritorial. Bentuk operasi matra darat yang dilakukan oleh satuan Komando Kewilayahan memiliki tanggung jawab membina dan memelihara kondisi wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta, didalam membangun, memelihara, me-ningkatkan dan memantapkan kemanunggalan TNI-Rakyat. Kegiatan dilaksanakan selama operasi, mengkoordinir pengerahan dan pengendalian penggunaan komponen cadangan dan komponen pendukung dan ketika terjadi pertempuran melaksanakan pengendalian penduduk serta melaksanakan rehabilitasi daerah sesudah operasi.

Manfaat Latgab Aspek Darat Bagi Hanneg.

Adapun manfaat Latihan Gabungan Aspek Darat bagi Pertahanan Negara, dapat ditinjau dari berbagai aspek, yaitu :

a. Aspek doktrin pertahanan.

Dalam Doktrin Pertahanan Negara maupun Doktrin TNI Tri Dharma Eka Karma, dinyatakan, bahwa Perang bagi bangsa Indonesia bukan cara untuk menyelesaikan pertikaian atau pertentangan, dan perang bagi bangsa Indonesia adalah jalan terakhir bila semua usaha penyelesaian secara damai telah ditempuh dan ternyata tidak membawa hasil. Perang hanya dilakukan dalam keadaan terpaksa untuk mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan negara serta kepentingan nasional. Latihan satuan TNI AD dalam Latihan Gabungan TNI Th 2008 yang memerankan pelibatan dalam strategi penangkalan dimaksudkan untuk menguji doktrin Sishanta dalam mewujudkan daya tangkal dan kekuatan pertahanan negara yang tangguh. Gelar kekuatan komponen utama yang tersebar dalam luasnya wilayah nasional menjadi tidak sebanding bila soliditas TNI dan kemanunggalan dengan rakyat tidak disinergikan menjadi kekuatan tangkal yang tangguh.

b. Aspek lingkungan strategi.

Perkembangan lingkungan strategi internasional dan regional berkaitan langsung dengan kepentingan negara tertentu. Konflik yang terjadi dikawasan regional mempunyai pengaruh global termasuk kepada Indonesia. Situasi ini memberikan gambaran keterlibatan TNI AD sebagai kekuatan penangkalan, pencegahan dan pemulihan keamanan dipersiapkan untuk menghadapi ancaman potensial bangsa Indonesia sebagai hasil proses analisa kecenderungan lingkungan strategis, dirancang dalam Latgab antara lain operasi linud, operasi gabungan darat, operasi khusus dan operasi teritorial merupakan latihan kesiapan TNI AD dalam menghadapi ancaman yang telah dipersiapkan sesuai perkembangan lingkungan strategi, sehingga mampu merespon perubahan lingkungan strategi dan sekaligus memberikan efek penangkalan (effect deterrence).

c. Aspek kesiapan personel dan materiil latihan.

Dalam Latihan Gabungan TNI Th 2008 TNI AD melibatkan personel +10.388 beserta perlengkapan satuan yang secara fisik telah melalui tahapan latihan bertingkat dan berlanjut sampai dengan tingkat latihan posko sesuai Sisbinlat TNI AD dan prajurit TNI AD secara satuan telah memiliki kesiapan untuk melaksanakan tugas latihan. Kesiapan materiil, Alutsista TNI AD siap dioperasionalkan sesuai Standard Operation Prosedur (SOP), yang dikategorikan masuk dalam kriteria usia tua dilakukan revitalisasi sesuai sistem pembinaan material TNI AD, seraya mengharapkan atensi pemerintah yang lebih tinggi lagi.

d. Aspek dampak militer.

Latihan gabungan TNI Th 2008 memiliki dampak militer dalam mewujudkan strategi penangkalan untuk mencegah keinginan negara tertentu mengganggu kedaulatan NKRI. TNI AD yang menggunakan daratan sebagai media pertempuran atau perang, peran manuver satuan TNI AD cukup menonjol dalam perebutan sasaran strategis diwilayah daratan. Peran satuan TNI AD dan kiprah prajurit TNI AD dapat memberikan gambaran kesiapan satuan TNI AD untuk berperang, sehingga dapat memberikan dampak militer untuk mencegah niat menyerang atau memperkecil ancaman, mengurangi niat lawan dan menjadi daya tangkal terhadap setiap ancaman potensial.

d. Aspek Kebanggaan Rakyat terhadap TNI AD.

Reformasi internal TNI, memberikan prespektif bahwa prajurit TNI AD tampil dengan disiplin, taat kepada aturan dan norma yang berlaku serta tetap berpegang pada jatidiri TNI, sebagai tentara pejuang, tentara rakyat, tentara profesional dan tentara nasional Indonesia, yang telah dan akan terus melaksanakan reformasi internal. Performance prajurit yang ditampilkan dalam Latgab TNI Th 2008 ini merupakan hasil dari reformasi internal TNI yang menggambarkan kesiapsiagaan, ketangkasan, ketangguhan dalam menggunakan alat peralatan sistem senjata (profesional), sehingga menggugah kebanggaan rakyat terhadap TNI AD.

e. Aspek soliditas.

Rasa senasib dan sepenanggungan di dalam kehidupan prajurit TNI AD merupakan wujud soliditas satuan. Dalam Latgab TNI, secara psikologis menciptakan hubungan emosional, saling pengertian, kese-pahaman dan kerjasama dengan satuan atau angkatan sebagai satu team work yang handal dan tangguh, menimbulkan esprite de corp menjadi titik awal adanya soliditas satuan yang solid yang menjadi faktor keberhasilan tugas satuan. Secara fisik prajurit TNI AD meng-gunakan perlengkapan, persenjataan dan alutsista sesuai Standard Operation Prosedur (SOP), dan untuk meningkatkan kemampuan perorangan dan satuan TNI AD sebagai team work, sinerginitas antara kondisi alutsista dan tekad profesionalisme, harus menghasilkan daya tempur yang optimal.

f. Aspek Kemanunggalan TNI-Rakyat.

Sesuai UU RI No.34/2004 tentang TNI, TNI AD bertugas pokok melaksanakan tugas TNI matra darat, menjaga keamanan wilayah perbatasan dengan negara lain, melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra darat serta melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat menggunakan media daratan sebagai palagan perang menjadi ruang gerak medan pertempuran. Keberadaan rakyat yang turut berpartisipasi dalam bela negara, merupakan sumber kekuatan TNI yang pada gilirannya dapat melipatgandakan kemampuan TNI dalam pertahanan negara. Oleh sebab itu, kemanunggalan TNI-Rakyat, terus dikembangkan dan ditingkatkan.

g. Aspek profesionalitas.

Kemampuan profesionalisme prajurit, sesuai Undang-Undang Nomor 34/2004, pasal 2.d, "Tentara Profesional, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi, menjadi koridor profesionalitas prajurit TNI AD baik perorangan maupun satuan. Untuk mewujudkan profesionalisme prajurit TNI AD dilakukan dalam siklus daur pembinaan personel, sehingga kesiapan sumber daya manusia dan tersedia alutsista dipersiapkan sesuai tuntutan tugas, sehingga setiap prajurit TNI harus dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan teknologi militer dari negara yang lebih maju. Tuntutan budaya belajar dan berlatih tidak hanya menjadi slogan profesionalitas prajurit saja tetapi langsung dapat melekat pada diri pribadi setiap prajurit, dan jadikan latihan gabugan TNI sebagai media mengukur profesionalitas prajurit TNI AD dan kesiapan tugas satuan-satuan TNI AD.

P e n u t u p.

Militansi rakyat, keterlibatan rakyat dan kemanunggalan TNI-Rakyat dalam perlawanan rakyat semesta atau perang berlarut merupakan modal utama dalam Sishanta, sehingga penyiapan RAK juang dengan rakyat yang terlatih sejak dini menjadi prioritas kesiapan pertahanan negara yang tangguh. TNI AD beroperasi dalam dimensi darat yang menyatu dengan aspek geografi, demografi dan kondisi sosial menjadikan kemanunggalan TNI-Rakyat bagaikan ikan dan air dan teritorial merupakan roh Binter TNI AD menjadi suatu kekuatan pertahanan negara yang tangguh.

Keterbatasan anggaran pertahanan dan kondisi Alutsista dalam Latgab TNI 2008 dapat mengukur profesionalitas prajurit TNI AD, kemanunggalan TNI dan Rakyat serta sejauh mana rasa kebanggaan dan kepercayaan rakyat serta kecintaan rakyat terhadap TNI dalam menegakkan kedaulatan dan kehormatan bangsa serta tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kekuatan TNI AD yang handal dan kredibel dapat dilihat sejuah mana pertahanan negara ini dapat diwujudkan, dengan diantaranya melalui Latihan Gabungan.

Semoga tulisan ini dapat memberi gambaran sekitar kegiatan Latihan Gabungan TNI tahun 2008 yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini,dan dapat menggugah semua stakeholders yang terkait dengan terwujudnya profesionalisme TNI pada umumnya dan Angkatan Darat pada khususnya. Prajuritku, Selamat melaksanakan Latihan Gabungan, semoga sukses. Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa melindungi dan bersama kita. Amin

Take from : TNI AD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar